Macam – macam Cedera dalam Olahraga dan Penanganannya

Posted on
cedera bansolinc.com

Cedera – Selain kebutuhan pokok, ternyata kita juga membutuhkan kebutuhan sehat untuk kita bisa memenuhi kebutuhan pokok itu. Sehingga banyak orang melakukan apa saja untuk menjaga kesehatan itu, salah satunya dengan Olahraga. Olahraga merupakan aktifitas yang menyehatkan, dimana tubuh secara aktif bergerak.  Dan olahraga juga dapat diaplikasikan kedalam permainan, seperti sepak bola, voli dan sebagainya.

Namun, karena tubuh sangat aktif bergerak, dapat dimungkinakan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan atau yang biasa disebut dengan cedera. Cedera disebabkan karena kesalahan pergerakan ataupun tubuh terlalu aktif bergerak karena kurang pemanasan.

Secara umum, cedera olahraga terbagi 2, yaitu :

Macam Cedera

  1. Cedera olahraga akut

Cedera olahraga akut adalah cedera olahraga yang terjadi saat olahraga berlangsung. Memberikan gejala dan tanda dalam waktu singkat, seperti rasa nyeri yang tajam, pembengkakan, dan keterbatasan gerak bagian tubuh yang cedera.

“Cedera akut disebabkan adanya pembebanan yang berlebihan atau sangat besar pada bagian tubuh yang bergerak. Sistem tulang dan otot persendian tidak dapat mengimbangi gaya yang besar tersebut sehingga terjadi robekan jaringan,” kata dr. Rachmad Wishnu Hidayat, Sp.KO, Dosen Luar Biasa Ilmu Kedokteran FKUI, Jakarta.

Adapun, cedera yang termasuk cedera akut yaitu kram otot pada betis, telapak kaki, perut, atau tangan. Cedera robekan ligamen sendi pergelangan kaki (ankle sprain), cedera robekan ligamen sendi lutut ACL (knee sprain), cedera robekan tendon otot gelang bahu (rotator cuff tear atau shoulder sprain), cedera robekan ligamen sendi pergelangan tangan (wrist sprain), cedera robekan otot paha belakang (hamstring), serta nyeri daerah tulang kering betis (shin splint).

2. Cedera kronis

Cedera kronis adalah cedera yang timbul perlahan-lahan dan bersifat akumulasi. Keluhan dirasakan sedikit demi sedikit dengan intensitas keluhan yang bertambah. Cedera kronis disebabkan karena overuse (ketegangan), ketika terjadi pembebanan berlebihan pada bagian tubuh tanpa diimbangi recovery yang baik. Pembebanan tersebut tidak sebesar beban penyebab cedera akut, tapi terakumulasi pada jaringan yang berpotensi cedera.

Keluhan biasanya berupa rasa nyeri tumpul yang sedikit-sedikit, tapi intensitasnya makin lama makin bertambah, hingga suatu saat anggota gerak kita terasa nyeri lebih nyata dan rentang gerak sendinya berkurang, serta mengalami pembengkakan.

Jenis cedera yang masuk dalam ketegori kronis adalah nyeri radang jaringan ikat telapak kaki plantar fascia, nyeri punggung bawah (low back pain), nyeri pangkal paha (groin atau hip pain), dan inflamasi ligamen sendi siku (tennis elbow)

Sebagai upaya dalam menghindari cidera, sebaiknya sebelum melakukan olahraga, lakukanlah pemanasan. Hal ini berfungsi untuk melenturkan dan merilekskan otot maupun tulang.

baca juga : Pemanasan Statis dan Dinamis

Untuk itu langsung simak saja yuk macam-macam cidera dalam olahraga berikut ini.

  1. Kram otot

Kram otot merupakan rasa nyeri yang terjadi pada bagian tubuh yang terkena dan bagian tubuh yang terkena tersebut tidak bisa digerakkan dalam beberapa menit. Kram otot juga sering terjadi jika anda berolahraga secara intens, tetapi anda kurang dalam melakukan pemanasan dan peregangan. Bagian tubuh manapun bisa terkena kram otot, namun yang sering terkena kram biasanya pada otot kaki. Ketika kram menyerang, otot Anda mengalami kontraksi tiba-tiba sehingga Anda akan merasakan nyeri dan bagian tubuh yang diserang kram akan sulit digerakkan selama beberapa detik atau menit.

Hal ini bisa sangat berbahaya ketika anda sedang berenang, jadi lakukan pemanasan yang cukup dan jangan terlalu memaksakan diri ketika melakukanya, karena bisa berakibat fatal. Ketika anda mengalami kram otot, usahakan untuk tetap tenang, pijat pada bagian yang terkena kram sambil anda terus melakukan gerakan. Dan ketika kram sudah hilang, sebaiknya anda istrirahat terlebih dahulu sebelum melanjutkanya lagi. Biarkan otot Anda untuk beristirahat terlebih dahulu

Cara mudah mengatasi kram :

 

Pada tangan

  • Istirahatkan tangan beberapa menit hingga kram mereda.
  • Pijat pada bagian tangan yang kram untuk melemaskan otot. Ini dilakukan untuk meregangkan otot di jari-jari tangan dan meningkatkan fleksibilitas otot-otot di tangan.
  • Perbanyak minum air putih, setidaknya 8 gelas sehari atau disesuaikan dengan kebutuhan tubuh.
  • Konsumsi makanan kaya magnesium. Mineral ini bisa kamu peroleh dengan mengonsumsi alpukat, pisang, kacang-kacangan, ikan salmon, sayuran berdaun hijau tua (seperti bayam, brokoli, dan sawi), serta susu dan produk olahannya. Idealnya, asupan magnesium yang direkomendasikan untuk orang berusia lebih dari 19 tahun adalah 320-350 miligram.
  • Gunakan obat pereda nyeri atau rasa sakit jika kram yang dirasakan tidak segera reda.

Pada Kaki

  • Tarik jari-jari kaki ke arah Anda. “Gerakan ini membuat otot yang kram meregang dan membantu otot menjadi rileks,” kata Cole. Anda juga dapat langsung menekan otot yang kram, kata Fackelman, dengan cara berjinjit.
  • Jika kram berlanjut, kompres bagian yang kram dengan air hangat. Tekanan dan kehangatan membantu meningkatkan sirkulasi darah dan memberikan pasokan darah segar beroksigen yang dapat membantu mengembalikan keseimbangan gizi dan mengakhiri kekakuan saraf.
  • “Segera setelah kram reda, masukkan dua jumput garam ke dalam 0,35 liter air dan meminumnya,” kata Cole. Ini akan membantu menyeimbangkan kadar elektrolit Anda. Anda juga bisa makan pisang, yang kaya kalium dan magnesium untuk menghilangkan kram otot. Jika kram berlanjut atau kembali, coba perbanyak air garam dan pisang.
  • Cara mencegahnya Jika kram kaki sering datang lebih dari biasanya (kram cenderung lebih sering sejalan bertambahnya usia), Anda mungkin perlu membuat beberapa perubahan:
  1. Minum banyak air. Pamela merekomendasikan minum hingga satu-setengah dari berat badan Anda. Jika berat badan Anda 68 kg, artinya Anda harus minum 75 ons air atau setara dengan sembilan gelas air. Tubuh terhidrasi dengan baik adalah kunci untuk menjaga otot-otot Anda bekerja secara optimal.
  2. Konsumsi lebih banyak magnesium. Selain pisang, kalsium ada di sayuran berdaun hijau gelap, kacang-kacangan, biji-bijian, ikan, alpukat, dan dark chocolate.
  3. Gosok kaki Anda secara teratur. Mulailah ritual perawatan diri, seperti memijat kaki dan betis di pagi hari dan di malam hari.
  4. Kenakan sepatu yang nyaman. Sepatu yang terlalu ketat atau sepatu hak yang terlalu tinggi dapat menyebabkan kekakuan otot, yang berujung pada kram kaki.
  1. Cidera Hamstring

Hamstring merupakan otot yang berada dip aha bagian belakang. Cidera ini ditandai dengan rasa nyeri pada bagian paha yang disebabkan karena otot paha terlalu kelelahan, dan kurangnya pemanasan sebelum melakukan olahraga.

Berdasarkan tingkat keparahan yang dialami, cedera hamstring terbagi menjadi tiga kategori, yaitu:

  • Kategori I
    Otot hamstring mengalami peregangan atau tertarik ringan. Cedera pada kategori ini membutuhkan pemulihan beberapa hari.
  • Kategori II
    Otot hamstring sobek sebagian. Cedera pada kategori ini membutuhkan pemulihan beberapa minggu hingga beberapa bulan.
  • Kategori III
    Robekan terjadi pada seluruh otot. Cedera kategori ini juga membutuhkan pemulihan beberapa minggu hingga beberapa bulan.

Ada beberapa tindakan yang bisa dilakukan untuk meredakan nyeri yang muncul, antara lain:

  • Kompres kaki dengan es untuk mengurangi rasa sakit dan bengkak. Lakukan tiap 2-3 jam sekali selama 20-30 menit dalam beberapa hari sejak cedera.
  • Berikan tekanan dengan mengenakan perban elastis pada area yang cedera.
  • Saat duduk atau berbaring, letakkan kaki di atas bantal agar posisinya lebih tinggi dari tubuh.
  • Jika diperlukan, tidak ada salahnya Anda coba mengonsumsi obat pereda rasa sakit. Namun sebaiknya konsultasikan kepada dokter terlebih dahulu untuk menghindari risiko efek samping.
  • Jangan memaksakan kaki untuk beraktivitas. Jika cedera yang dirasakan sudah parah, memakai alat bantu jalan mungkin dibutuhkan. Untuk mengetahui alat apa yang tepat, konsultasikan kepada dokter.
  • Sebagai bagian dari proses penyembuhan, lakukan latihan peregangan dan penguatan otot. Lakukan hal ini sesuai rekomendasi dari dokter.
  • Pada kasus tertentu, kemungkinan diperlukan operasi untuk menangani kerusakan otot hamstring.
  1. Cidera Achilles Tendon

Cidera jenis ini ditandai dengan rasa nyeri pada bagian tumit hingga kaki, hal ini disebabkan karena sobeknya otot tendon.

Terdapat dua jenis Achilles Tendinitis:

  • Insertional Achilles Tendinitis, yang mempengaruhi bagian bawah di mana tendon tersambung ke tumit. Ini dapat terjadi pada usia berapa saja.
  • Non-Insertional Achilles Tendonitis, yang mempengaruhi bagian tengah tendon dan terdapat pembengkakan serta penebalan di area ini. Ini paling umum di antara orang muda yang aktif.

Achilles Tendinitis biasanya disebabkan oleh stress yang bersinambungan (pengulangan dampak minor) pada area yang terpengaruh, atau akibat cedera yang tiba-tiba. Peregangan atau pengkondisian yang buruk sebelum latihan olahraga, atau berolahraga, juga meningkatkan risiko. Achilles Tendinitis kemungkinan besar terjadi jika:

  • Anda tidak memakai sepatu dengan pendukung yang baik
  • Anda banyak melompat (misalnya, ketika bermain basket)
  • Anda berlari pada permukaan yang keras, misalnya, beton atau Anda terlalu sering berlari
  • Anda tiba-tiba meningkatkan, atau mengintensifkan aktivitas
  • Otot betis Anda sangat kencang (tidak meregang)
  • Kaki Anda tiba-tiba bengkok ke dalam atau keluar

Tendinitis dapat juga terjadi apabila tonjolan tulang terbentuk di bagian belakang tumit. Ini dapat mengiritasi Tendon Achilles, menyebabkan rasa nyeri dan pembengkakan, dan lebih umum terdapat pada orang yang lebih tua.

Gejala utama Achilles Tendinitis yaitu rasa nyeri dan pembengkakan di bagian belakang tumit. Biasanya terjadi pada olahraga yang menggunakan kaki secara aktif seperti atletik, sepak bola, voli dan lain sebagainya. Ketika anda mengalami cidera ini, anda bisa mengangkat tumit lebih tinggi dan mengompresnya dengan es.

Anda sebaiknya berkonsultasi ke dokter jika:

  • Tidak dapat membengkokkan pergelangan kaki
  • Tidak dapat berjalan secara nyaman pada sisi yang terpengaruh
  • Mengalami pembengkakan betis
  • Memiliki cedera yang menyebabkan cacat bentuk di sekitar persendian
  • Pergelangan kaki terasa nyeri di malam hari, atau ketika Anda sedang beristirahat
  • Rasa nyeri pada pergelangan kaki berlangsung lebih lama dari beberapa hari
  • Mengalami tanda-tanda infeksi, termasuk demam, kulit merah-merah atau badan terasa hangat

Perawatan atau pengobatan bergantung pada penyebab masalah. Anda dapat dirawat sebagai berikut:

  • Memakai bantalan panas untuk merilekskan otot dan menstimulasi aliran darah
  • Kompres es untuk meminimalkan pembengkakan
  • Minum obat non-steroid anti-inflamasi untuk mengatasi nyeri
  • Fisioterapi untuk meningkatkan kekuatan dan agar dapat bergerak kembali
  • Beristirahat untuk meredakan peradangan
  • Suntikan steroid untuk meredakan peradangan
  • Melakukan peregangan untuk mengendurkan otot betis

Pembedahan biasanya hanya ditawarkan untuk cedera yang berulang dan rasa nyeri yang membandel, tetapi mungkin diperlukan jika tendon robek atau ada ligamen yang terlepas

  1. Cidera Pada Otot Pergelangan Kaki (ankle)

Otot pergelangan kaki sangat sekali rentan terkena cidera dan merupakan salah satu jenis cidera saat berlari yang sering terjadi. Biasanya disebabkan karena salah dalam melakukan tumpuan pada kaki, ataupun karena kurang pemanasan. Dan otot pergelangan kaki juga merupakan tempat dimana tiga tulang bertemu, apalagi ketika anda berlari pada permukaan yang tidak rata, otot pada pergelangan kaki akan mudah terkena cidera.

baca juga : Memperkuat Pergelangan Kaki setelah Terkilir

Cedera pergelangan kaki atau ankle, biasa dikenal dengan sebutan keseleo, dapat terjadi akibat teknik mendarat yang salah setelah melompat, atau menginjak permukaan yang tidak rata sehingga posisi kaki terpuntir dan menekuk ke dalam lalu menyebabkan ligamen-ligamen penyangga ankle teregang dengan cepat. Hal ini akan membuat kerusakan pada ligamen dan jaringan sekitarnya dengan tingkat keparahan yang bervariasi, mulai dari teregang dengan robekan minimal (derajat 1), robekan kecil-sedang (derajat 2), sampai putus total (derajat 3).

Penanganan awal cedera ankle sangatlah krusial, karena apabila tidak segera ditangani dengan baik, kerusakan yang ditimbulkannya akan semakin parah, dan akhirnya akan menambah panjang waktu pemulihannya.
Prinsip penanganan awal cedera ankle adalah dengan menggunakan metode RICE.

Penanganan Awal dengan Metode RICE

R yang berarti rest, segera istirahatkan bagian yang cedera, jangan ngotot meneruskan permainan.

I untuk ice, segera kompres bagian ankle yang cedera menggunakan es yang sudah dihancurkan dan dimasukkan ke dalam plastik /ice bag selama 15-20 menit dan diulang tiap 2 jam sampai 72 jam pertama sesudah terjadinya cedera. Hindari kontak langsung antara es dengan kulit untuk menghindari terjadinya kerusakan jaringan.

C untuk compression, sambil kompres dengan es, lakukan pembebatan/penekanan di area yang cedera menggunakan elastic bandage/kain.

E untuk elevation, yang berarti ganjal kaki yang cedera menggunakan bantal agar posisinya sedikit lebih tinggi dari jantung.
Proses rehabilitasi cedera ankle (derajat 1&2) dapat dimulai segera sejak hari terjadinya cedera. Pada fase awal, program rehabilitasi terbatas pada RICE dan latihan ROM (Range of Motion).

Latihan ROM ini bertujuan untuk mencegah kekakuan sendi, misalnya dengan melakukan peregangan dalam posisi duduk, kaki diluruskan, kemudian telapak kaki ditarik perlahan menggunakan handuk atau bisa juga dengan menggerakan kaki membentuk huruf. Pada fase ini juga hindarkan pembebanan pada ankle yang cedera, sebaiknya tidak menopang beban tubuh di atas tungkai yang cedera. Penggunaan alat bantu seperti kruk (crutch) dapat membantu pada hari-hari awal cedera.

Pada fase selanjutnya baru ditambahkan latihan penguatan otot-otot kaki, latihan proprioseptif dan pada fase lanjutan diberikan latihan sport specific, seperti berlari dan melompat. Waktu yang dibutuhkan untuk pulih kembali setelah cedera ankle berkisar 3-6 minggu, tergantung derajat keparahan cedera, riwayat cedera ankle berulang dan respon tubuh terhadap latihan.

Cedera ankle dinyatakan sembuh dan boleh kembali melakukan aktivitas olahraga sebelumnya, bila: sendi ankle memiliki ROM yang baik saat gerakan aktif maupun pasif, kekuatan ankle yang cedera sudah serupa dengan ankle yang sehat, dapat melakukan berbagai gerakan olahraga tanpa nyeri, dan telah siap secara psikologis.

  1. Cidera Tulang Kering

Cidera tulang kering atau yang biasa disebut shin splints merupakan cidera dimana atlet mengalami kesakitan pada bagian tulang kering bagian atas, dan pada bagian betis. Pada umumunya cidera ini sering dialami ketika berlari dan melompat. Hal ini disebabkan karena aktivitas fisik yang dilakukan secara tiba-tiba seperti meningkatkan intensitas jogging dalam segi kecepatan maupun ketahanan, ataupun untuk berlari dijalan yang menanjak dan menurun.

Ketika anda mengalami cidera pada tulang kering, segera kompres dengan es pada bagian betis dan tulang kering, guna untuk mengurangi rasa nyeri pada bagian tersebut. Bila diperlukan, Anda bisa mengonsumsi obat-obatan pereda rasa sakit yang dijual bebas di apotik, seperti paracetamol .

Pencegahan Cidera Tulang Kering

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya bidai tulang kering, di antaranya adalah:

  • Lakukan pemanasan dengan baik sebelum berolahraga.
  • Gunakan sepatu olehraga yang tepat, terutama dengan sol atau bantalan yang mendukung bentuk kaki Anda. Gunakanlah penyangga telapak kaki, terutama bagi yang memiliki telapak kaki datar.
  • Tingkatkan kadar latihan, fleksibilitas dan kekuatan Anda secara bertahap.
  • Lakukan latihan untuk memperkuat dan menstabilkan kaki.
  • Turunkan berat badan jika berlebih.
  • Sebisa mungkin lakukan kegiatan fisik di permukaan tanah yang datar dan lembut.
  1. Nyeri Pinggang

Nyeri Pinggang merupakan rasa sakit yang terjadi pada bagian bawah pungung sebelah kanan ataupun kiri, atau orang jawa menyebutnya ‘boyok’. Jenis cidera ini biasa terjadi ketika anda sedanga angkat beban, bermain tenis, golf, bersepada dan baseball. Nyeri pada pinggang tersebut disebabkan karena beberapa hal, bisa karena syaraf terjepit, herniated disk atau bahkan otot sobek. Dan hal ini menandakan bahwa aktivitas yang anda lakukan terlalu berat bagi tubuh anda. Jika anda mengalami cidera jenis ini, anda bisa  mengompresnya dengan es dan beristirahatlah yang cukup dan jangan mengangkat benda terlalu berat.

Penanganan Syaraf Terjepit

  1. Lakukan tindakan PRICE.
  • Protection: melindungi saraf berarti menghindari cedera lebih lanjut. Untuk melindungi pinggul, Anda harus menghindari paparan suhu tinggi (dari air rendaman mandi, sauna, kompres panas, dll.) dan menghindari gerakan berlebihan.
  • Rest: selama 24-72 jam pertama, hindari kegiatan apa pun yang dapat memperparah cedera di bagian yang sakit. Sebisa mungkin, berusahalah untuk duduk atau berbaring.
  • Immobilization: perban atau bidai biasanya dipasangkan ke bagian yang sakit untuk membatasi gerakannya dan mencegah cedera semakin parah.
  • Compression: buatlah kompres dingin dengan membungkuskan kantong es menggunakan handuk dan menempelkannya ke bagian yang cedera selama 15-20 menit setiap 2-3 jam setiap hari. Suhu dingin akan membantu mengurangi nyeri dan meredakan peradangan.
  • Elevation: untuk meninggikan pinggul, letakkan satu atau dua buah bantal di bawahnya sehingga posisinya lebih tinggi daripada jantung selama Anda berbaring. Posisi seperti ini akan membantu melancarkan sirkulasi darah ke bagian yang cedera dan membantu penyembuhannya.
  1. Pijat saraf yang terjepit. Pemijatan lembut dengan minyak hangat bermanfaat untuk menenangkan saraf terjepit. Anda bisa meminta bantuan orang lain untuk melakukan pemijatan, atau membuat janji perawatan dengan terapis pijat.
  2. Lakukan peregangan piriformis. Latihan ini akan mengendurkan dan meregangkan otot pinggul dan punggung bawah, sehingga kekakuan dan tekanan pada pinggul akan berkurang.
  3. Duduklah di bangku dengan telapak kaki menempel rata di lantai. Jika nyeri terasa di pinggul kiri, letakkan pergelangan kaki kiri di atas lutut kaki kanan. (Jika nyeri pinggul terasa di sisi kanan, lakukan gerakan sebaliknya).
  4. Pastikan untuk meletakkan tulang pergelangan kaki sekitar 2,5-5 cm di atas tempurung lutut. Dengan demikian, lutut kaki kanan dapat membuka ke samping.
  5. Bungkukkan badan hingga terasa otot di sisi kiri pinggul bagian luar dan punggung bawah meregang. Tahan selama 10-20 detik.
  6. Cobalah peregangan flexor. Latihan ini akan meregangkan otot pinggul, sehingga kekakuan dan tekakan di pinggul berkurang.
    1. Berdirilah dalam posisi lunge. Letakkan kaki depan sejauh 0,9-1,2 m dari kaki belakang, dengan menekuk kedua lutut dalam sudut 90 derajat. Letakkan kaki yang sakit di belakang karena bagian inilah yang akan diregangkan secara maksimal.
    2. Letakkan lutut kaki belakang di lantai. Pertahankan lutut kaki depan tegak lurus dengan tumit. Tegakkan tubuh dan perlahan bungkukkan ke depan hingga otot belakang paha terasa meregang. Pertahankan posisi ini selama 10-20 detik, kemudian lepaskan.

Pencegahan Herniated Disk

Untuk membantu mencegah herniated disk lakukanlah:

  • Memperkuat otot-otot dapat membantu menstabilkan dan mendukung tulang belakang.
  • Pertahankan postur yang baik. Postur yang baik mengurangi tekanan pada tulang belakang dan disk. Jaga punggung lurus dan sejajar, terutama ketika duduk untuk waktu yang lama. Mengangkat benda berat dengan benar, membuat kaki Anda – bukan punggung Anda – untuk bekerja dengan benar.
  • Menjaga berat badan yang sehat. Kelebihan berat badan menghasilkan lebih banyak tekanan pada tulang belakang dan disk, membuat mereka lebih rentan terhadap herniasi.

Kapan harus ke dokter

            Carilah bantuan medis jika leher atau punggung anda sakit dan menjalar ke bagian lengan atau kaki, atau jika disertai dengan mati rasa, kesemutan atau lemas.

  1. Cidera Bahu

Cedera bahu sangat sering terjadi jika anda melakukan aktivitas olahraga yang menggunakan tangan seperti berenang, bulu tangkis, tenis, dan baseball. Bahkan olahraga seperti sepak bola yang tidak terlalu banyak menggunakan tangan, juga bisa terkena cidera jenis ini. Hal ini disebabkan karena bahu terlalu sering digerakkan sehingga menyebabkan otot bahu kelelahan atau bahkan sobek.

Untuk menghindarinya sebaiknya lakukan pemanasan karena pada bahu terdapat otot – otot yang sangat penting dalam menopang pergerakan sendi –sendi pada tangan.Ketika anda mengalami jenis ini compress dengan menggunakan es selama beberapa menit. Atau anda bisa mengolesnya dengan krim dan balsam panas untuk melemaskan otot-oto yang nyeri dan kaku.

  1. Cidera lutut

Cidera lutut merupakan cidera yang ditandai dengan rasa sakit pada bagian lutut. Biasa terjadi jika melakukan olahraga yang menggunakan kaki secara aktif seperti berbagai macam olahraga atletik, sepak bola, basket dan lain sebagainya. Cidera ini terjadi karena lutut mengalami benturan atau terjatuh, atau bisa juga lutut bergerak secara tidak lazim.

baca juga : Langkah Mudah Melindungi Lutut dari Cidera

Ketika mengalami cidera ini, kaki akan sangat sulit digerakkan dan apabila digerakkan akan terasa sakit pada bagian lutut. Jika anda mengalami cidera lutut, sebaiknya anda istirahat dan lakukan perawatan secara intens. Karena cidera pada lutut biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama dalam masa penyembuhanya.

Berbagai Jenis Cedera Lutut

Karena lutut tersusun atas berbagai jaringan, maka cedera lutut juga terbagi menjadi beberapa macam, berdasarkan jaringan yang mengalami kerusakan. Di bawah ini adalah beragam kondisi cedera lutut yang sering terjadi:

  • Keseleo
    Keseleo merupakan cedera lutut yang menimpa ligamen. Ligamen sendiri adalah jaringan ikat yang berfungsi menyatukan semua bagian lutut. Cedera lutut karena keseleo terbagi lagi menjadi tiga, berdasarkan tingkat kerusakan pada ligamen.

     

    • Keseleo tingkat 1: Ligamen di dalam lutut meregang dan menimbulkan nyeri. Namun, lutut masih stabil dan tidak ada robekan pada ligamen.
    • Keseleo tingkat 2: Ada ketidakstabilan pada lutut, karena sebagian serat ligamen mengalami robekan.
    • Keseleo tingkat 3: Terdapat robekan yang parah pada ligamen.
  • Bursitis
    Cedera lutut lainnya adalah bursitis, yaitu peradangan akibat iritasi atau infeksi, pada kantung berisi cairan lutut yang disebut bursa. Bursa sendiri berfungsi sebagai peredam tekanan untuk meminimalkan gesekan antar jaringan yang membentuk lutut, seperti otot dan tendon di sekitar sendi. Terdapat dua bursa utama di lutut, yaitu yang berada di atas tempurung lutut dan yang terletak di ujung tulang kering (tibia).
  • Kerusakan meniskus (meniscal tears)
    Meniskus adalah cakram berbentuk bulan sabit dari tulang rawan yang memiliki fungsi untuk meredam gesekan. Selain sebagai peredam, bagian ini juga berfungsi sebagai bantalan halus bagi tulang paha atau femur. Cedera lutut jenis ini bisa terjadi karena terlalu banyak digunakan ataupun akibat proses alami seiring bertambahnya usia.
  • Ketegangan otot lutut
    Ketegangan pada lutut terjadi ketika otot dan tendon di sekitar lutut terentang akibat terlalu dalam menekuk atau terlalu melebar saat peregangan. Selain menimbulkan rasa sakit yang luar biasa, kondisi ini juga bisa menyebabkan terganggunya fungsi lutut, terutama dalam keleluasaan bergerak.
  • Dislokasi tempurung lutut
    Tempurung lutut atau patella bisa berpindah lokasi ke sisi lutut. Seringkali kondisi ini disebabkan oleh cedera akibat kecelakaan atau olahraga. Meski sangat nyeri, dislokasi tempurung lutut tidak mengancam nyawa. Untuk memulihkan kondisi lutut, dibutuhkan fisioterapi.
  • Dislokasi sendi
    Jika lutut mengalami hantaman kuat, maka kemungkinan mengalami dislokasi atau pergeseran sendi sangat tinggi. Benturan bisa saja terjadi saat melakukan olahraga atau ketika terjadi kecelakaan. Cedera lutut jenis ini menyebabkan kerusakan parah pada semua komponen penyusun lutut. Kerusakan juga bisa menimpa sistem saraf dan pembuluh darah pada lutut.
  • Fraktur lutut
    Fraktur atau patah tulang pada lutut biasanya diakibatkan oleh hantaman langsung ke tulang lutut. Hal ini bisa terjadi apabila saat jatuh, tempurung lutut menjadi penahan bobot tubuh. Fraktur juga bisa terjadi pada tulang kering karena tekanan mendadak ke lutut, terutama pada orang yang sudah menderita osteoporosis.

Cedera lain yang bisa menimpa lutut adalah sindrom nyeri patellofemoral atau biasa disebut dengan penyakit lutut pelari. Ada pula kondisi yang dinamakan chondromalacia patella. Penyebab kedua jenis gangguan pada lutut ini adalah kerusakan berulang pada struktur lutut yang didasari oleh faktor genetik maupun oleh cara menggerakkan lutut yang salah saat beraktivitas.

Yang Perlu Dilakukan saat Mengalami Cedera Lutut

Saat mengalami cedera lutut, hal yang harus dilakukan dalam waktu 2-3 hari sejak mengalami cedera adalah:

  • Segera hentikan apa pun aktivitas fisik yang sedang dijalani.
  • Kompres dengan air es selama 15 menit tiap dua jam untuk mengurangi rasa sakit akibat pembengkakan dan pendarahan internal.
  • Untuk mencegah perburukan cedera dan sakit, perban lutut saat mengalami cedera.
  • Berbaringlah dengan posisi lutut berada di atas tubuh.
  • Jangan memberikan air panas atau balsem pada sendi yang cedera.
  • Jangan mengonsumsi minuman beralkohol karena bisa memperparah pembengkakan dan perdarahan.
  • Perdarahan dan pembengkakan bisa bertambah parah jika dilakukan pemijatan pada daerah cedera. Maka dari itu, jangan lakukan pemijatan pada lokasi sendi yang cedera.
  • Jangan menggunakan sendi lutut. Karena dengan mengistirahatkan sendi, dapat memberikan dampak baik untuk mengurangi nyeri.

Jika cedera bersifat berat dan dirasa tidak mungkin sembuh dengan sendirinya, hubungi dokter. Beberapa hal yang mungkin dilakukan dokter pada cedera lutut, antara lain:

  • Operasi terbuka
    Jika lutut mengalami cedera parah dan membutuhkan perbaikan menyeluruh, maka operasi terbuka mungkin dilakukan.
  • Operasi arthroskopi
    Biasanya operasi ini dilakukan pada cedera tulang rawan. Operasi arthroskopi dilakukan dengan membuat sayatan kecil di lutut kemudian memasukkan instrumen operasi melalui sayatan tersebut.
  • Penarikan cairan atau aspirasi
    Tindakan ini akan dilakukan jika sendi lutut mengalami pembengkakan parah, sehingga cairan di dalamnya harus dikeluarkan melalui jarum.Ini adalah cara yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan gerak dan kekuatan lutut. Cara ini juga digunakan untuk mengurangi rasa sakit akibat cedera.
  • Fisioterapi
    Ini adalah cara yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan gerak dan kekuatan lutut. Cara ini juga digunakan untuk mengurangi rasa sakit akibat cedera.
  1. Cidera Siku

Cidera ini biasa terjadi pada olahraga yang menggunakan tangan secara aktif, seperti bulu tangkis, tenis, angkat beban, voli maupun golf. Biasanya terjadi karena otot siku digerakkan secara intens maupun over. Bisa juga karena otot siku menyangga beban terlalu berat. Cidera ini ditandai dengan rasa nyeri pada bagian siku. Jika anda pemain voli, untuk menghindari cidera, anda bisa melatih dengan latihan fisik bola voli yang baik dan benar.  Jika anda mengalami cidera jenis ini, anda bisa mengurangi rasa sakit dengan mengompresnya dengan menggunakan es.

  1. Lecet

Cidera jenis ini merupakan cidera ringan, namun juga perlu penanganan. Biasa terjadi di hampir semua olahraga fisik. Lecet terjadi karena gesekan dengan benda yang tidak rata, seperti terjatuh sehingga bagian tubuh yang terkena tanah akan mengalami lecet. Jika anda mengalami lecet segera tutup luka dan berikan antiseptic agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

  1. Dislokasi

Merupakan salah satu cidera berat yang dialami oleh seorang atlet, dimana cidera ini terjadi Karena sendi mengalami pergeseran. Cidera jenis ini harus mengalami perawatan yang intensif, dan membutuhkan penyembuhan dalam jangka panjang.

Gejala Dislokasi

Berikut ini adalah beberapa gejala dislokasi, di antaranya adalah:

  • Sendi bengkak dan memar.
  • Bagian sendi yang terkena berwarna merah atau menghitam.
  • Bentuk sendi menjadi tidak normal.
  • Terasa sakit ketika bergerak.
  • Mati rasa di sekitar area sendi.

Diagnosis Dislokasi

Dislokasi cenderung sulit dibedakan dengan patah tulang. Sebagai langkah awal, dokter akan memeriksa area sendi yang dicurigai mengalami dislokasi, serta sirkulasi darah di sekitar area dislokasi. Selanjutnya, dokter akan melakukan beberapa tes untuk memastikan diagnosis, antara lain:

  • Foto Rontgen, untuk menunjukkan adanya dislokasi atau kerusakan lain di area sendi, misalnya patah tulang.
  • MRI, untuk membantu dokter menilai kerusakan pada struktur jaringan lunak di sekitar sendi yang mengalami dislokasi.

Pengobatan Dislokasi

Pengobatan akan disesuaikan dengan area dan tingkat keparahan dislokasi yang pasien alami. Beberapa bentuk pengobatan yang mungkin dilakukan, antara lain adalah:

  • Reduksi. Tindakan yang dilakukan dokter untuk mengembalikan tulang ke posisi semula.
  • Imobilisasi. Setelah tulang telah kembali ke posisi semula, dokter akan menghambat gerak sendi dengan menggunakan penyangga sendi, seperti gips, selama beberapa minggu.
  • Operasi. Jika dokter tidak mampu mengembalikan tulang ke posisi semula atau jika pembuluh darah, saraf, atau ligamen yang berdekatan dengan dislokasi mengalami kerusakan, maka dokter akan melakukan operasi.
  • Rehabilitasi. Setelah penyangga sendi dilepas, pasien akan menjalani program rehabilitasi untuk memulihkan jangkauan gerak dan kekuatan sendinya.

Selain melalui pengobatan, ada beberapa langkah sederhana yang dapat pasien lakukan sendiri untuk membantu proses penyembuhan. Di antaranya adalah:

  • Mengistirahatkan sendi yang mengalami dislokasi. Jangan terlalu banyak menggerakkan sendi yang cedera dan hindari gerakan yang memicu rasa sakit.
  • Mengonsumsi obat pereda nyeri jika diperlukan. Obat-obatan yang dijual bebas di apotek, seperti ibuprofen, dapat membantu meredakan rasa sakit yang dirasakan.
  • Mengompres sendi dengan air hangat dan es. Letakkan es pada sendi yang terluka untuk mengurangi peradangan dan rasa sakit. Gunakan kompres dingin selama 1-2 hari pertama. Setelah 2-3 hari, ketika rasa sakit dan peradangan mulai menghilang, gunakan kompres panas untuk membantu melemaskan otot-otot yang kencang dan sakit.
  • Melatih sendi yang cedera. Setelah 1-2 hari, lakukan sedikit latihan terhadap sendi yang cedera sesuai petunjuk dokter. Hal ini dilakukan agar sendi tidak kaku.

Komplikasi Dislokasi

Jika dislokasi tidak segera diobati, kondisi ini dapat bertambah parah dan bisa menyebabkan beberapa komplikasi, seperti:

  • Kerusakan saraf dan pembuluh darah di sekitar sendi.
  • Sobeknya otot, ligamen, dan jaringan penghubung otot dengan tulang (tendon) pada sendi yang cedera.
  • Peradangan pada sendi yang cedera. Risiko ini akan semakin tinggi pada lansia.
  • Meningkatnya risiko cedera kembali pada sendi yang mengalami dislokasi.

Pencegahan Dislokasi

Untuk mencegah terjadinya cedera yang dapat mengakibatkan dislokasi, antara lain dengan:

  • Selalu berhati-hati dan waspada ketika melakukan aktivitas.
  • Selalu berpegangan pada sisi tangga setiap naik atau turun
  • Memindahkan kabel listrik di lantai ke lokasi yang aman agar tidak tersandung.
  • Menggunakan perlengkapan pelindung ketika berolahraga.
  • Tidak berdiri di atas tempat-tempat yang tidak stabil, misalnya kursi.
  • Menutupi lantai dengan karpet yang tidak licin.
  • Melakukan latihan kebugaran secara rutin untuk meningkatkan keseimbangan dan memperkuat otot-otot tubuh.
  • Memeriksakan kesehatan mata secara teratur dan memastikan rumah memiliki pencahayaan yang cukup.
  1. Patah Tulang

Cidera ini memang cukup jarang terjadi, dimana patah tulang merupakan cidera berat yang dialami karena andanya tulang yang retak atau patah. Hal ini disebabkan karena tekanan pada tulang yang berlebihan atau kaki salah dalam melakukan pergerakan. Cidera ini sangatlah fatal, sehingga bisa mengancam dari karir seorang atlet.

Pertolongan Pertama untuk Cidera Patah Tulang

Penting bagi Anda untuk mengetahui apa yang harus dilakukan ketika Anda atau orang yang Anda cintai mengalami patah kaki di rumah. Ketika ada kecelakaan yang membutuhkan perhatian medis, panggil unit gawat darurat terdekat. Sementara Anda menunggu pertolongan medis, berikut adalah beberapa langkah sederhana yang dapat dipraktekan:

Langkah 1.

Jangan bergerak kecuali jika diperlukan. Untuk mencegah cedera lebih lanjut, stabilkan daerah yang luka dengan tetap berdiam diri. Jangan memindahkan korban jika punggung atau lehernya terluka. Untuk menangani daerah luka, Anda dapat membuat bidai dengan melipat sepotong karton atau majalah dan dengan lembut tempatkan di bawah anggota badan. Kemudian ikat dengan hati-hati menggunakan potongan-potongan kain.

Langkah 2

Jika terjadi perdarahan, hentikan dengan membungkus daerah luka dengan perban secara erat atau kain steril. Terapkan tekanan pada luka.

Langkah 3

Jika orang yang terluka menunjukkan tanda-tanda syok, tutupi dia dengan selimut sementara kaki ditinggikan sekitar 30 cm. Tanda-tanda syok termasuk pusing, lemas, kulit pucat dan berkeringat, sesak napas, dan peningkatan denyut jantung.

Langkah 4

Untuk membantu mengurangi pembengkakan, Anda dapat menerapkan kompres es atau kompres dingin ke bagian tersebut. Namun, jangan letakkan es langsung pada kulit. Pertama-tama bungkus dalam handuk atau kain.

Langkah 5

Tunggu bantuan medis atau larikan ke rumah sakit.

baca juga : 11 Manfaat Jogging Untuk Kesehatan Tubuh

Untuk menghindar macam-macam cidera diatas sebainya anda melakukan pemanasan dan tidak memaksakan diri ketika berolahraga serta selalu perhatikan keamanan diri Anda dalam berolahraga.

Jangan lupa Like dan SHARE artikel ini supaya bermanfaat untuk yang lain.

Terimakasih.

One thought on “Macam – macam Cedera dalam Olahraga dan Penanganannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *